“Peradaban tidak lahir dari banyaknya bangunan yang berdiri, melainkan dari banyaknya gagasan yang ditulis, dibaca, dan diwariskan.”
Ada saat ketika sebuah pertemuan bukan sekadar mempertemukan manusia, tetapi juga mempertemukan harapan. Ada waktu ketika sebuah kolaborasi tidak hanya menghasilkan sebuah program, tetapi melahirkan jejak yang akan dikenang oleh generasi berikutnya. Ada momentum ketika kata-kata tidak lagi berhenti sebagai rangkaian huruf, melainkan menjelma menjadi lentera yang menerangi perjalanan bangsa. Momentum itulah yang hari ini dipersembahkan dari Lamongan.
MI Narrative Quran (MINAN) Lamongan, sebagai cikal bakal lahirnya Forum Nasional Literasi (FORNAS) LENTERA, menjalin sebuah sinergi yang mempertemukan semangat gerakan literasi dengan penguatan pendidikan madrasah. Ketua Umum LENTERA, Dr. Laili Hibatin Wafiroh, S.S., M.Pd., MCE, bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, Dr. H. Mohammad Muhlisin Mufa, S.Ag., M.Pd.I, mengukuhkan komitmen bersama untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih luas melalui penerbitan antologi nasional “MUKBANG RUJAK MANIS: Mengukir Karya, Bingkai Antologi Gemilang dalam Ruang Jelajah Antologi Karya Sastra dengan Membaca Asyik, Menulis Inspiratif & Santun.” Antologi ini menghimpun praktik baik para Fasilitator Daerah (FASDA) LENTERA sebagai dokumentasi, refleksi, sekaligus inspirasi bagi gerakan literasi Indonesia.
Bagi Ketua Umum LENTERA, literasi adalah perjalanan panjang yang tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah keberanian merawat pengalaman menjadi pengetahuan, mengubah pengabdian menjadi inspirasi, dan menghadirkan karya yang terus hidup meski waktu berganti. Setiap guru yang menulis, setiap fasilitator yang berbagi praktik baik, dan setiap anak yang mencintai buku sedang menanam benih-benih peradaban yang kelak akan tumbuh menjadi pohon ilmu bagi negeri.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan memandang bahwa madrasah memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menyampaikan ilmu. Madrasah adalah tempat bertemunya iman, ilmu, dan akhlak. Ketika budaya membaca tumbuh di ruang-ruang kelas, ketika kebiasaan menulis menjadi nafas keseharian warga madrasah, maka sesungguhnya sedang dibangun generasi yang mampu menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus menjawab tantangan zaman dengan kebijaksanaan.
Kesamaan pandangan inilah yang menjadi fondasi kolaborasi. FORNAS LENTERA menghadirkan jejaring penggerak literasi dari berbagai daerah. Kementerian Agama Kabupaten Lamongan menguatkan ekosistem pendidikan madrasah, sementara MI Narrative Quran (MINAN) menjadi rumah yang menyambut setiap gagasan, merawat setiap karya, dan mempertemukan banyak hati yang memiliki cita-cita yang sama: menjadikan literasi sebagai budaya hidup.
Melalui MUKBANG RUJAK MANIS, setiap FASDA diajak mengabadikan perjalanan pengabdiannya dalam sebuah narasi yang jujur, inspiratif, dan penuh makna. Setiap tulisan merekam bagaimana sebuah komunitas tumbuh, bagaimana sebuah lembaga pendidikan bergerak, bagaimana tantangan dihadapi, dan bagaimana harapan tetap dijaga. Pedoman penulisan antologi pun menekankan pentingnya pengalaman nyata, nilai inspiratif, serta potensi praktik baik untuk diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.
Sesungguhnya, setiap halaman dalam antologi ini bukan sekadar kumpulan cerita. Ia adalah saksi bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil: dari satu buku yang dibaca, dari satu kelas yang dibimbing, dari satu komunitas yang bergerak hingga akhirnya menjelma menjadi gelombang perubahan yang menjangkau banyak daerah.
Bagi MINAN, menjadi Host of LENTERA bukan hanya sebuah kehormatan, melainkan amanah untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi, ruang bertumbuh, dan ruang berbagi bagi siapa saja yang percaya bahwa ilmu akan semakin bermakna ketika dituliskan dan disebarluaskan.
Dari Lamongan, kita belajar bahwa lahirnya cahaya tidak harus besar untuk mampu menerangi. Satu lentera sudah cukup menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang sedang mencari arah. Demikian pula dengan satu tulisan yang lahir dari ketulusan; ia mampu melintasi batas ruang dan waktu, menguatkan semangat, menggerakkan hati, dan menginspirasi perubahan.
Rabu, 22 Juli 2026 menjadi momentum yang penuh makna bagi Forum Nasional Literasi (FORNAS) LENTERA. Tepat pukul 07.30 WIB, Ketua Umum LENTERA, Dr. Laili Hibatin Wafiroh, S.S., M.Pd., MCE, didampingi Penasihat LENTERA Ummi Lilik Durrotul Munawwaroh, S.Pd.I, beserta Sekretaris Nasional Moh. Syarif Hidayatullah, S.E. dan Faris Shofa Ismail, S.P melaksanakan silaturahmi dan audiensi ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan.
Kunjungan tersebut disambut hangat oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, Dr. H. Mohammad Muhlisin Mufa, S.Ag., M.Pd.I. Dalam suasana yang penuh keakraban, kedua belah pihak berdiskusi mengenai penguatan budaya literasi melalui kolaborasi strategis antara FORNAS LENTERA dan Kementerian Agama Kabupaten Lamongan.
Agenda utama pertemuan adalah membangun sinergi dalam penerbitan karya nasional “MUKBANG RUJAK MANIS (Mengukir Karya, Bingkai Antologi Gemilang dalam Ruang Jelajah Antologi Karya Sastra dengan Membaca Asyik, Menulis Inspiratif & Santun)”, sebuah antologi Best Practice FASDA LENTERA yang menghimpun pengalaman inspiratif para penggerak literasi dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan ini juga menjadi langkah awal memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan ekosistem literasi di lingkungan madrasah dan masyarakat.
Silaturahmi ini diharapkan menjadi awal lahirnya berbagai program bersama yang tidak hanya menghasilkan karya tulis berkualitas, tetapi juga memperkuat gerakan literasi sebagai bagian dari pembangunan karakter dan peradaban bangsa.
Semoga sinergi ini menjadi awal dari semakin banyak karya yang lahir dari madrasah, semakin banyak praktik baik yang terdokumentasi, dan semakin banyak generasi yang percaya bahwa membaca adalah jalan menuju ilmu, menulis adalah cara mengabadikan pengabdian, dan berbagi adalah bentuk tertinggi dari kebermanfaatan karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya dikenang oleh sejarahnya, tetapi juga oleh cerita-cerita baik yang dituliskan oleh anak-anak bangsanya. Dan dari Lamongan, cerita itu kini mulai ditulis untuk Indonesia.
Bingkai Kata ditulis oleh Ketua Umum LENTERA, Dr. Laili Hibatin Wafiroh, S.S., M.Pd., MCE