Oleh: Dr. Laili Hibatin Wafiroh, S.S., M.Pd., MCE
Launching SAJADAH SANTRI di Hari Santri
Hari Santri bukan sekadar peringatan, tetapi momentum penyadaran. Tanggal 22 Oktober menjadi pengingat betapa pentingnya peran para santri dalam menjaga nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Di tengah arus zaman yang terus berubah, karakter menjadi benteng utama yang harus dibangun sejak dini. Karena itu, di Hari Santri yang penuh makna ini, kami dengan bangga mempersembahkan sebuah inisiatif baru: SAJADAH SANTRI.
SAJADAH SANTRI merupakan akronim dari: Students’ Action and Journal of Daily Activities at Home, Siapkan Anak Nan Tangguh Raih Ridho Ilahi. Program ini bukan sekadar lembar kegiatan atau catatan harian, melainkan jembatan spiritual dan edukatif antara madrasah dan keluarga, yang dirancang untuk:
Dengan kata lain, SAJADAH SANTRI adalah hamparan tempat sujud pendidikan karakter, tempat di mana anak-anak dibimbing untuk mencintai kebaikan sejak langkah pertama mereka dalam kehidupan. Dan di Hari Santri yang suci ini — hari ketika sujud bukan hanya ritual, tetapi simbol perjuangan — MI Narrative Quran (MINAN) menghamparkan sajadah baru bagi generasi penerus; bukan sajadah dari kain, tapi dari niat, akhlak, dan cinta kepada Ilahi.
Melalui peluncuran SAJADAH SANTRI, kami mengajak seluruh keluarga besar MINAN untuk berjalan bersama dalam membentuk anak-anak yang tidak hanya cerdas pikirannya, tapi juga jernih jiwanya — anak-anak yang menjadikan setiap amal sebagai catatan, setiap kebaikan sebagai kebiasaan, dan setiap hari sebagai ladang pahala.
Hari Santri adalah hari lahirnya nilai-nilai perjuangan dan keikhlasan. Ia bukan hanya milik mereka yang bersarung dan berpeci, tapi milik setiap anak negeri yang ingin menjadi kuat dalam akidah dan mulia dalam akhlak. Launching SAJADAH SANTRI di momen ini adalah bentuk komitmen kami melanjutkan semangat santri (MUKMIN, Murid Kreatif MINAN) dalam membangun masa depan peradaban.
Sebagaimana santri dahulu mencatat setiap pelajaran dengan tinta dan doa, maka anak-anak hari ini kami ajak mencatat amal mereka sehari-hari dengan pena yang jujur dan hati yang ikhlas. SAJADAH SANTRI menjadi pengingat bahwa pendidikan terbaik adalah yang mengakar dari rumah dan menyatu dengan madrasah.
Filosofi di Balik SAJADAH SANTRI
Sajadah adalah tempat bersujud, tempat hamba berkomunikasi dengan Rabb-nya. Maka, SAJADAH SANTRI menjadi simbol bahwa setiap aktivitas harian anak—baik belajar, membantu orang tua, salat, membaca Al-Qur’an—semuanya adalah bentuk ibadah jika diniatkan karena Allah. Program ini menanamkan nilai bahwa amal kecil yang konsisten lebih dicintai Allah daripada amal besar tapi terputus.
Anak-anak diarahkan untuk menjalankan aktivitas mereka dalam bentuk jurnal yang penuh makna. Bukan sekadar “apa yang dilakukan”, tetapi “bagaimana perasaan dan nilai yang mereka pelajari” dari setiap kegiatan. Dengan demikian, SAJADAH SANTRI melatih anak untuk:
SAJADAH SANTRI tidak bisa berjalan sendiri. Jurnal ini dirancang agar orang tua dan guru menjadi satu tim dalam mendampingi anak. Orang tua membantu memantau dan membimbing pengisian jurnal di rumah, sementara madrasah memberi arah dan umpan balik secara berkala. Dengan demikian, terjalin sinergi yang harmonis antara pendidikan formal dan nonformal, antara ilmu dan amal.
Isi utama dari SAJADAH SANTRI dimulai dari catatan aktivitas harian anak di rumah. Setiap hari, mereka diajak menjalankan aktivitas ibadah dan kebaikan — seperti salat, mengaji, membantu orang tua, menjaga kebersihan, hingga perbuatan baik kecil lainnya. Namun tidak berhenti di situ, anak-anak juga diminta melakukan refleksi: apa kebaikan terbaik hari ini, kesalahan yang ingin diperbaiki, dan hal apa yang ingin ditingkatkan esok hari. Dengan ini, anak-anak secara perlahan dibiasakan melakukan muhasabah, sebuah latihan mengenal diri yang menjadi dasar tumbuhnya akhlak sejati.
Tak hanya itu, setiap hari Jumat, anak-anak juga mencatat mutiara hikmah dari ceramah yang mereka dengarkan. Mereka belajar menangkap pesan-pesan kebaikan, lalu merangkumnya dalam bahasa sendiri. Hal ini bukan hanya untuk mengasah kemampuan menyimak dan menulis, tetapi juga menanamkan kepekaan ruhani, agar mereka terbiasa melihat kehidupan dari sudut pandang hikmah dan nilai. Melalui kegiatan ini, Jumat bukan sekadar akhir pekan, tapi menjadi hari pembaharuan diri yang penuh makna.
Peran orang tua dalam SAJADAH SANTRI pun menjadi keutamaan. Ada kolom khusus untuk evaluasi dan pesan cinta dari orang tua. Setiap hari, ayah atau ibu diajak untuk membaca jurnal anak, memberi apresiasi, nasihat ringan, atau bahkan sekadar ungkapan sayang. Dengan cara ini, terjadi perjumpaan batin antara anak dan orang tua — bukan hanya lewat obrolan harian, tapi lewat perhatian yang tertulis dan tersimpan. Hal ini dapat memperkuat ikatan, membangun komunikasi emosional, dan menghadirkan pendidikan yang utuh dari dua arah: madrasah dan rumah.
Dengan semua isi yang terkandung di dalamnya, SAJADAH SANTRI bukan sekadar jurnal, tapi cermin tempat anak melihat dirinya bertumbuh, dan jembatan tempat orang tua dan madrasah bertemu dalam mendidik. SAJADAH SANTRI adalah sajadah simbolik, tempat sujud dalam arti yang lebih luas — sujud amal, sujud akhlak, sujud kesadaran. Melalui lembar-lembar itu, anak-anak dilatih untuk menjadikan hidupnya sebagai ibadah yang terus berjalan, walau tanpa disadari.
Dan di momen istimewa Hari Santri, ketika bumi mencatat jejak sujud para ulama dan pejuang ilmu, MI Narrative Quran menghadirkan SAJADAH SANTRI sebagai warisan nilai untuk generasi penerus. Bukan sekadar program, melainkan jalan. Bukan sekadar tugas, melainkan teladan. Karena mendidik anak bukan soal memberi tahu, tapi membimbing mereka menapaki cahaya, langkah demi langkah, dari rumah, ke madrasah, hingga ke langit pengharapan.
Melalui SAJADAH SANTRI, kita tidak hanya mencetak anak yang cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam spiritual dan tangguh dalam karakter. Mereka akan tumbuh menjadi generasi sajadah — generasi yang terbiasa bersujud, bersyukur, dan berjuang dalam kebaikan.
Di Hari Santri ini, mari kita sambut SAJADAH SANTRI sebagai langkah kecil yang membawa harapan besar. Karena setiap jejak sujud hari ini, adalah fondasi peradaban esok hari.
Selamat Hari Santri Nasional 2025.
Bersama SAJADAH SANTRI, mari kita Siapkan Anak Nan Tangguh Raih Ridho Ilahi
Lamongan, 22 Oktober 2025