SEKILAS INFO
28-11-2022
  • 1 tahun yang lalu / Madrasah Ibtidaiyah Narrative Quran (MINAN) adalah pengukir sejarah pendidikan baru di Lamongan yang berkomitmen melahirkan generasi emas pecinta Al Quran yang mampu mengisahkan narasi Al Quran dengan kemahiran bahasa yang dimilikinya.
  • 1 tahun yang lalu / Senin, 25 Januari 2021 Pengumuman Placement Test Peserta DiDik Baru Tahun Pembelajaran 2021-2022.
15
Mar 2021
0
Mengetahui Idiom Terkenal, yang Ternyata Bukan Hadis

Hadis – merupakan segala perilaku Nabi Muhammad baik berupa perkataan (qauli), perbuatan (fi’li), ketetapan atau sikap diam (taqriri). Semua tindakan Nabi Muhammad ditulis dan dikodifikasikan dengan poses konfirmasi dan seleksi ketat yang dilakukan oleh Imam-imam hadis, seperti Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i.

Antara masa Nabi Muhammad dan masa kanonisasi hadis berjarak cukup lama. Hal itu terjadi dikarenakan di masanya Nabi melarang untuk menulis darinya selain Al-Qur’an. Meskipun begitu proses ketat yang dilakukan oleh ulama setelah tabi’in tersebut menjadi tonggak kuat hadis sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran.

Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri muncul juga perkataan yang disandarkan pada Nabi, namun ternyata hanya perkataan ulama’ ataupun tokoh, yang kemudian karena sumber yang samar perkataan itu dianggap sebagai suatu hadis. Yang seperti ini tidak dapat dikatakan sebagai pemalsuan hadis, atau sengaja membuat hadis palsu.

Ada juga, yang memang dengan sengaja membuat perkataan yang disandarkan pada Nabi. Bahkan, dibuatkan juga jalur periwayatannya secara lengkap. Mereka membuat hadis palsu untuk kepentingan golongan atau madzhabnya.

Di tengah-tengah masyaralat kita, seringkali, kita tidak menyadari ketika mendapati suatu kata mutiara atau kata bijak, lalu kemudian kita menganggap itu adalah sebuah hadis. Berikut beberapa hadis terkenal yang ternyata hanyalah hadits palsu.

“Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat.”

  • Menurut Ali Mustafa Ya’kub, “Hadits itu tak memiliki sanad. Boleh jadi, hadits
    itu adalah SEJENIS KATA-KATA MUTIARA.”
  • Al-Albani menyebut hadits itu TIDAK ADA SUMBERNYA

“Barangsiapa menunaikan haji ke Baitullah dan tidak berziarah (mengunjungiku)
maka ia telah menjauhiku (Rasulullah SAW).”

  • Menurut Albani hadits ini MAUDHU’

“Aku adalah Kota Ilmu, sedangkan Ali adalah Pintunya. Maka barangsiapa yang menginginkan Ilmu, hendaknya Dia mendatangi dari Pintunya.”

  • Para imam ahlul hadits MENOLAK hadits tersebut, di antaranya adalah Al-Bukhari, Abu Zur’ah, At-Tirmidzi, Al-Uqaili, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni, Ibnul ‘Adi, Ibnul Jauzi, Al-Baghawi, An-Nawawi, Ibnu
    Daqiqil Ied, dan Ibnu Taimiyah.
  • Adz-Dzahabi menyatakan MAUDHU’ (PALSU).
  • Al-Albani menjelaskan KEPALSUAN hadits ini pada kitab Adh-Dha‟ifah
    6/518, No. 2955 dan Dha‟iful Jami‟, No. 13220.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata, “Hadits Aku adalah Kota Ilmu dan Ali adalah Pintunya…. tergolong HADITS MAUDHU’(PALSU).”

“Dari ibnu Abbas radhiallaahu anhu, Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Mencintai Ali akan memakan (menghapuskan) dosa-dosa
sebagaimana api melahap kayu bakar.”

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 52/13 No. 131 dan hadits ini juga disebutkan dalam Kanzul Ummal.
  • Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari
  • Ibnu ‘Abbas dengan MARFU‟. HADITS INI BATHIL (al-Fawaid al-Majmu‟ah No. 58, Hal. 367).

Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang kalimat-kalimat yang diterima Adam dari Rabb-Nya, sehingga Allah
mengampuninya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, (kalimat itu
adalah) Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah,
Hassan dan Hussain, lalu Allah mengampuni Adam.”

  • Keanehan pada hadits ini adalah Nabi Adam alaihis sallam telah mengenal ‘Ali, Fathimah, Hassan, dan Hussain. Bahkan Beliau (Adam) bertawassul dengan hak mereka untuk mendapatkan ampunan Allah.
  • Di samping hadits di atas adalah HADITS PALSU, hadits di atas juga
    mengantarkan manusia pada KESYIRIKAN. Sebab, doa ini berisi tawassul dengan orang-orang yang ghaib (tidak ada); Rasulullah shallallahu alaihi wa
    sallam, Ali, Fathimah, Hassan, dan Hussain belumlah Allah ciptakan.
  • Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullaah berkata, “Hadits ini dan yang semisalnya adalah HADITS PALSU, yang dipakai oleh TUKANG KHURAFAT untuk dijadikan landasan dalam membolehkan berdo’a kepada
    orang-orang yang telah mati.” (Ath-Thali’ah, Hal. 230).

“Bekerjalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.”

  • Ungkapan ini sangat terkenal di bibir manusia saat ini dan mereka terkecoh dengan mengatakannya sebagai ucapan Rasulullah SAW. Padahal para Imam Ahli Hadits telah menegaskan bahwa INI
    BUKANLAH HADITS.
  • Syaikh Al-Albani mengatakan, “La ashala lahhu marfu‟an (TIDAK ADA
    DASARNYA DARI RASULULLAH).” (As Silsilah Adh Dha’ifah, 1/63. No. 8. Darul Ma’arif). Namun, ungkapan ini memang ada secara mauquf (sebagai ucapan sahabat), yakni ucapan Abdullah bin Umar bin Al-Khathab (Ibnu Asy-Syajari, Al-Amali, 1/386. Mawqi’ Al-Warraq).
  • Ada juga yang menyebut sebagai ucapan Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash. (Ibnu Abdi Rabbih, Al-„Aqdul Farid, 2/469. Mawqi’ Al-Warraq).
  • Ada juga ucapan yang mirip dengan ini juga dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash Radhiallahu Anhu, dengan kalimat sedikit berbeda yakni “ Uhruz li Duniaka (Jagalah untuk duniamu) …”, bukan “ I‟mal lid Duniaka (bekerjalah untuk duniamu) ..” Jagalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok (Musnad Al Harits, No. 1079. Mawqi‟ Jami‟ Al Hadits.
  • Lalu Imam Nuruddin Al Haitsami, Bughiyatul Bahits „an Zawaid Musnad Al-Harits, Hal. 327. Dar Ath Thala‟i Lin Nasyr wat Tauzi‟ wat Tashdir. Lihat juga, Al-Hafizh Ibnu Hajar, Al-Mathalib Al-„Aliyah, No. 3256. Mauqi’ Jami Al-Hadits.).
  • Dalam sumber yang lain disebutkan bahwa ini adalah ucapan dari Abu Darda Radhiallahu Anhu dan Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash juga, dengan ungkapan yang juga agak berbeda yakni “Ihrits lid Duniaka (tanamlah untuk
    duniamu) ….. dst.” (Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani, Muhadharat Al-Adiba‟, 1/226. Mawqi’ Al-Warraq. Ibnu Qutaibah, Gharibul Hadits, 1/81, pada Juz 2, Hal.123, beliau menyebutkan bahwa makna Ihrits adalah kumpulkanlah. Darul Kutub Al-„Ilmiyah).
  • Jadi, ada tiga macam redaksi: I‟malu (Bekerjalah), Uhruz (jagalah), dan Ihrits (tanamlah). Semua ini tidak satu pun yang merupakan ucapan Rasulullah,
    melainkan ucapan sahabat saja. Bahkan ada juga sebagai berikut. Perbaikilah oleh dunia kalian, dan bekerjalah untuk akhirat kalian, seakan kalian mati besok. (HR. Al Qudha‟i, No. 668. Mawqi’ Jami’ Al Hadits). Hadits ini tanpa ada bagian, “Seakan kau hidup selamanya.”

Itu adalah sebagian contoh hadis palsu yang tersebar hingga terkenal bahwa ia adalah perkataan Nabi Muhammad. Masih banyak lagi selain itu. Semoga bermanfaat. [] (mma)

Agenda Kegiatan

Video Terbaru

Data Madrasah

MI Narrative Quran Lamongan

NPSN : 69993353 / NSM : 111235240537

Jl. Kalianyar (Selatan Perumahan Green Flower) Lamongan (0322) 3106655
KEC. Lamongan
KAB. Lamongan
PROV. Jawa Timur
KODE POS 62216