SEKILAS INFO
28-11-2022
  • 1 tahun yang lalu / Madrasah Ibtidaiyah Narrative Quran (MINAN) adalah pengukir sejarah pendidikan baru di Lamongan yang berkomitmen melahirkan generasi emas pecinta Al Quran yang mampu mengisahkan narasi Al Quran dengan kemahiran bahasa yang dimilikinya.
  • 1 tahun yang lalu / Senin, 25 Januari 2021 Pengumuman Placement Test Peserta DiDik Baru Tahun Pembelajaran 2021-2022.
9
Apr 2022
4
Al-Qur’an, Kitab yang Menghibur

Penjagaan Allah atas Al-Qur’an

Sebagai wahyu bermuatan kata-kata Tuhan (kalamullah), Al-Qur’an memiliki keindahan dari berbagai aspek. Dia tidak hanya menjelma sebagai sebuah kalam yang mati dari penjagaan dan perawatan oleh Mutakallim-nya sendiri. Hal itu telah disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni dalam ayat inna nahnu nazzalna adz-dzikra wa inna lahu lahafidzun (Al-Hijr [15] : 9), bahwa Allah menurunkan adz-dzikr (Al-Qur’an) dan Allah lah yang menjaganya.

Beberapa mufassir menjelaskan makna penjagaan Allah atas Al-Qur’an. Al-Jalalluddin Al-Mahalli, dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa penjagaannya ialah dari penggantian atau perubahan (at-tabdil), pemelencengan (at-tahrif), penambahan (az-ziyadah) dan pengurangan (an-naqs). Ibnu Katsir pun serupa, bahwa Allah lah yang menjaga Al-Qur’an dari perubahan (at-taghyir) dan penggantian (at-tabdil). Masa penjagaan itu tidak terbatas pada waktu, yakni hingga hari kiamat terjadi.

Beragam Cara Allah Menjaga Al-Qur’an

Pertama-tama cara Allah dalam menjaga Al-Qur’an telah tampak pada bagaimana metode Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril. Turunnya Al-Qur’an berlaku secara berangsur-angsur (munajjaman) dalam kurun waktu selama kurang lebih 23 tahun. Dengan turun secara berangsur itu, ialah cara Allah menjaga Al-Qur’an. Bagaimana bisa?, iya. Karena turun berangsur, artinya Nabi Muhammad memiliki kesempatan yang cukup longgar untuk menguatkan hafalan para sahabat atas ayat yang turun. 6236 ayat yang turun secara silih berganti, tentu akan memperingan upaya sahabat nabi dalam menghafal tiap bagian. Dengan begitu Al-Qur’an akan lebih terjaga melalui kuatnya hafalan mereka.

Masa transmisi Al-Qur’an antar sahabat dengan cara oral atau melalui hafalan telah berlangsung. Di sesi itu pula muncul ide untuk menuliskan ayat-ayat yang turun, di berbagai media yang ada. Kemudian di sesi berikutnya, lahir gagasan untuk mengmpulkannya dalam antologi dengan kanonisasi ketat hingga terkumpulkan kedalam lembaran-lembaran yang disebut mushaf.

Pada giliran selanjutnya, seluruh kaum muslimin menyebarkan tulisan-tulisan Al-Qur’an hingga ke bangsa ‘ajam (non-Arab). Ketika masuk pada orang-orang selain penutur asli bahasa Arab, maka metode pengenalan perlu dirancang. Itu pula dalam rangka menjaga keotentikan Al-Qur’an itu sendiri. Orang-orang yang tidak mengetahui cara membaca huruf-huruf hijaiyah pun memerlukan metode tertentu. Seiring pula muncul ilmu tajwid dan ilmu gramatikal Arab.

Bagaimana Al-Qur’an Menjadi Menyenangkan di Tangan Para Ulama’

Nabi Muhammad diutus sebagai pembawa risalah dengan kabar gembira (basyir) dan peringatan (nadzir). Artinya wahyu (Al-Qur’an) yang dibawanya pun mengandung dua hal itu. Begitulah pula para ulama’ mengaplikasikan berbagai gaya dakwah bercermin dari tugas nabi dan dua sisi kandungan Al-Qur’an tersebut. Tidak luput pula upaya para ulama’ dalam menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an agar lebih mudah diserap oleh umat.

Bahkan, pada akhirnya, para ulama’ berusaha ‘menghidupkan’ Al-Qur’an dengan memperkenalkannya melalui berbagai metode yang variatif. Melalui ragam metode itu mereka berusaha menjadikan Al-Qur’an lebih membumi dan ‘terjangkau’ oleh seluruh lapisan umat.

Dengan cara Allah ‘meminjam’ otoritas sanad dan keilmuan yang dimiliki oleh para ulama’, Al-Qur’an semakin tersebar dan dibaca oleh kaum muslimin. Koridor keilmuan yang membatasi otoritas tersebut tidak lah kaku, bahkan cenderung dinamis dengan menyesuaikan kondisi zaman. Yang dimaksud disini, bukanlah berarti memperkosa Al-Qur’an untuk menyesuaikan zaman, tetapi membuat pola kreatif sebagai upaya merawat Al-Qur’an.

Kita harus cukup memiliki keberanian untuk mengakrabi karya-karya ulama’ terdahulu dalam menyerap dan membumikan nilai-nilai Qur’ani. Dari sana maka tentu akan kita temui berbagai inovasi yang mereka upayakan.

Jika kembali pada judul “Al-Qur’an, kitab yang menghibur” di atas, maka penulis akan mengetengahkan beberapa contoh upaya ulama’ dalam menanamkan nilai Qur’ani dengan berbagai metode yang menyenangkan. Karena sesungguhnya Al-Qur’an itu pun mengandung kegembiraan dengan muatan kabar gembira, maka tidaklah terlarang untuk mengajarkannya dengan cara-cara yang penuh kegembiraan pula.

Salah satu ulama’ yang bernama Al-Jazari, menyusun nadzam yang terkenal dengan sebutan kitab Matan Al-Jazariyah.  Jika disusun dalam lirik-lirik nadzam, maka kitab itu akan dinyanyikan dengan lagu tertentu. Dengan nyanyian, tentu akan lebih menyenangkan, tidak terkesan sepaneng dan metentheng. Begitulah kira-kira. Lalu apa isi dari kitab bernadzam ini?. Nadzam Jazariyah merupakan pembahasan mengenai ilmu dan hukum tajwid. Tajwid ialah kajian yang membahas mengenai aturan atau kaidah dalam membaca Al-Qur’an  yang baik dan benar, termasuk aturan makharijul huruf hingga bacaan ghorib.

Mbah Djablawi, salah satu ulama’ Al-Qur’an dari Solo Raya, tepatnya dari Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Klaten Jawa Tengah, pernah menyusun nadzam berisi urutan juz-juz dalam Al-Qur’an. Selain itu, beliau juga menyusun nadzam urutan nama-nama surah dalam Al-Qur’an. Nadzam urutan juz terdiri dari sebelas bait, dapat ditemukan di buku “Doa dan Dzikir” yang dicetak Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Klaten.

Teungku Haji Muhjiddin Jusuf menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan terjemah berbentuk nadzam dalam kitab Tafsir Pase. Muhjiddin merupakan salah satu ulama dari Aceh yang memiliki perhatian terhadap kajian Al-Qur’an. Dengan bentuk nadzam tersebut, sudah barang tentu beliau memiliki tujuan salah satunya adalah memberikan kesan mudan dan menyenangkan dalam memahami Al-Qur’an. Tafsir tersebut telah menjadi bahan kajian primer di beberapa tugas akhir para sarjana di kampus-kampus Islam negeri.

Contoh-contoh di atas merupakan sebuah realitas yang menunjukkan bahwa upaya para ulama’ untuk mendekatkan Al-Qur’an kepada umat tidak melulu dengan cara yang ‘menegangkan’. Tentu masih banyak lagi karya-karya ulama’ yang serupa.

Penutup

Sebagai muslim, kita mengetahui bahwa kitab mulia, Al-Qur’an, merupakan kitab yang bermuatan nilai positif (khair) dan petunjuk pada hal yang baik (hudan). Maka inovasi yang baik dalam membumikan dan mendekatkan Al-Quran kepada muslim sebagai pembacanya adalah sebuah keniscayaan.

Oleh karena itu, tidaklah bijak jika kita bersikap antipati terhadap upaya-upaya, yang baik dan tidak berlawanan dengan rambu yang ditetapkan Allah dan Rasulullah, yang telah dicontohkan oleh para ulama’ terdahulu yang arif dan bijak.

Inovasi-inovasi para ulama’ itu bukanlah dalam rangka ‘mengacak-acak’ Al-Qur’an dari keterjagaannya, akan tetapi upaya positif dan penuh harap agar menjadi bermanfaat untuk khalayak umum dalam mengakrabi Al-Qur’an. Wallahu a’lamu bish-shawab. [.] (mma)

 

lailihibatinwafiroh@gmail.com, Sabtu, 9 Apr 2022

Subhanallah. It’s very interesting to know the beauty of Quran. Nice to read this article more and more.
MINAN has proposed a good method to learn Quran by Qurma. Amazing, thanks for always inspiring us, superteam

Balas

    M. Maghfur Amin, Sabtu, 9 Apr 2022

    it’s great to know that moslem scholars have attention in Qur’anic studies with various approach.thanks

    Balas

lilikdm0209@gmail.com, Sabtu, 9 Apr 2022

lilikdm0209@gmail.com,
MasyaAlloh, Alhamdulilalah TABAROKALLOH, MI NARRATIVE QUR’AN LAMONGAN is the best,, semoga ISTIQOMAH dan makin jadi inspirasi Dan Barokah

Balas

    M. Maghfur Amin (Penulis), Minggu, 10 Apr 2022

    Terimakasih.Semoga bermanfaat.

    Balas

Agenda Kegiatan

Video Terbaru

Data Madrasah

MI Narrative Quran Lamongan

NPSN : 69993353 / NSM : 111235240537

Jl. Kalianyar (Selatan Perumahan Green Flower) Lamongan (0322) 3106655
KEC. Lamongan
KAB. Lamongan
PROV. Jawa Timur
KODE POS 62216