SEKILAS INFO
28-11-2022
  • 1 tahun yang lalu / Madrasah Ibtidaiyah Narrative Quran (MINAN) adalah pengukir sejarah pendidikan baru di Lamongan yang berkomitmen melahirkan generasi emas pecinta Al Quran yang mampu mengisahkan narasi Al Quran dengan kemahiran bahasa yang dimilikinya.
  • 1 tahun yang lalu / Senin, 25 Januari 2021 Pengumuman Placement Test Peserta DiDik Baru Tahun Pembelajaran 2021-2022.
8
Jun 2021
0
Ketika Al-Qur'an Mendadak Viral di Kalangan Bangsa Arab

Tradisi Buruk Bangsa Arab

Bangsa Arab diapit oleh dua bangsa besar, yakni Romawi dan Persia, yang telah mengenal berbagai teknologi dan keilmuan. Romawi dan Persia menjadi kekaisaran yang maju meninggalkan bangsa Arab.

Bangsa Arab memiliki tradisi kepenyairan, di sisi lain tumbuh pula tradisi-tradisi buruk yang menjadi penghalang bagi kemajuan, seperti perjudian, perbudakan, pembunuhan anak perempuan, berfoya-foya dan gemar berperang antar suku.

Tradisi-tradisi buruk tersebut merupakan warisan yang terinspirasi dari budaya bangsa Romawi dan Persia.

Meskipun begitu, kekuatan peradaban sastra dan penyair tumbuh dan telah mengakar kuat di kalangan bangsa Arab, sekalipun lebih pada aktifitas penyair jalanan.

Ladang kepenyairan bagi mereka adalah pasar-pasar strategis di seputar wilayah yang saat ini termasuk semenanjung atau jazirah Arab, seperti ‘Ukaz, Majnah dan Dzil Majad.

Di ajang pasar-pasar itu mereka menampilkan kelihaian menggubah kalimat-kalimat indah secara lisan. Kenyataannya, kebanyakan dari penyair-penyair oral itu tidaklah pandai menulis. Keahlian menulis pada masa itu masih sangatlah terbatas, bahkan langka.

Selain itu tradisi penyembahan berhala-berhala yang berpusat di Ka’bah, Mekkah, menjadikan jazirah Arab tetap memiliki daya tarik. Tidak kurang dari 360 berhala terletak di sekeliling dan bagian dalam Ka’bah.

Daya Tarik Kota Makkah

Seluruh penduduk di wilayah jazirah Arab memiliki kebiasaan secara turun temurun untuk berkunjung ke ka’bah untuk sebuah peribadatan.

Bahkan dikarenakan adanya Ka’bah tersebut hingga menimbulkan kecemburuan bagi Gubernur Yaman yakni Abrahah sehingga dia memiliki niatan untuk menghancurkannya.

Yang tidak kalah pentingnya, adalah adanya sumur zam-zam yang merupakan aset bagi bangsa Arab yang bermukim di Makkah.

Jadi, meskipun ada dua bangsa besar yang mengapit jazirah Arab, namun tradisi mengunjungi baitullah yang mengakar sejak zaman Nabi Ismail menjadi daya tarik penting bagi bangsa ini.

Muncul Tradisi Membuat Berhala

Paganisme muncul belakangan setelah lamanya masa fatrah (kekosongan utusan). Menurut Imam Muqatil masa fatrah  adalah 600 tahun, yakni setelah berakhirnya masa Nabi Isa hingga Nabi Muhammad diutus.

Awalnya, agama yang dipegang kuat oleh suku bangsa yang mendiami jurang, yang saat ini menjadi kota Makkah, adalah agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Kosongnya utusan dalam kurun waktu yang lama menjadikan mereka melalaikan ajaran yang murni dan mulai menyekutukan Allah dengan berhala-berhala.

Namun, tidak semuanya turut dalam kemusyrikan tersebut. Terdapat ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nasrani yang tetap berpegang teguh pada ajaran agama mereka dan menghindari pemujaan terhadap berhala. Ada pula yang tetap memurnikan ketauhidan sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ismail.

Sebagian riwayat menyebutkan ayah Nabi Muhammad termasuk yang tidak pernah mengikuti kegiatan kaum jahil untuk menyembah berhala.

Kondisi Masyarakat Nabi Muhammad

Di tengah keadaan masyarakat yang demikian inilah Nabi Muhammad dilahirkan. Nabi Muhammad diliputi tanda-tanda kenabian yang telah diketahui detail-detailnya oleh ahlul kitab melaui kitab-kitab terdahulu yang mereka pegang.

Saat Nabi Muhammad lahir, tanda kenabian itu pun telah nampak, seperti berguncangnya istana Kisra dan padamnya api sesembahan kaum Majusi di Persia. Ketika sebagian ahli kitab bertemu dengan Nabi Muhammad, maka mereka akan dapat mengetahui tanda-tanda tersebut.

Dengan mencocokkan setiap tanda yang dijelaskan dalam Taurat dan Injil, mereka dapat memastikan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang dimaksudkan oleh kitab tersebut.

Hal itulah yang dialami seorang pendeta yang bernama Bukhaira, ketika dipertemukan dengan Nabi Muhammad. Bukhaira bertemu dengan Nabi Muhammad yang masih berusia 12 tahun saat Nabi Muhammad diajak oleh pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam.

Bukhair adalah seorang pendeta Nasrani. Bukhaira menyadari bahwa pemuda yang bersama Abu Thalib itu bukanlah pemuda biasa.

Tanda-tanda yang diungkapkan dalam kitab dari ajaran yang dianutnya terdapat dalam diri sang pemuda. Bukhaira menghampiri Abu Thalib dan menanyakan perihal pemuda itu. Abu Thalib mengaku bahwa pemuda itu adalah anaknya.

Air muka Bukhaira seketika berubah mendapatkan jawaban demikian. Bukhaira kemudian mendesak Abu Thalib dengan menyatakan bahwa semua tanda kenabian yang diketahui dari kitabnya telah lengkap terdapat pada pemuda itu, kecuali bahwa ia adalah anak Abu Thalib.

Mendapatkan tanggapan dari Bukhaira seperti itu, Abu Thalib akhirnya mengakui yang sebenarnya, bahwa pemuda itu ialah keponakannya.

Dengan begitu, Bukhaira, yakin bahwa kelak pemuda itulah yang akan menjadi utusan Allah (rasulullah) yang terakhir. Seorang pendeta Nasrani, merupakan syi’ar pertama  kenabian (nubuwwah) Nabi Muhammad SAW.

Awal Turunnya Wahyu

Maka, benarlah apa yang dikatakan oleh Bukhaira. Pada usia yang ke 40 tahun, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, setelah ber-tahannus selama beberapa hari di gua Hira.

Tentu saja, Nabi Muhammad tidak siap dengan kehadiran Jibril untuk pertama kalinya. Peristiwa turunnya wahyu pasti menjadi masa-masa yang paling berkesan bagi Nabi Muhammad.

Bagaimana tidak, beliau menggambarkan proses turunnya wahyu seakan dadanya terasa seperti ada suara air yang bergemuruh. Gambaran proses itu menunjukkan betapa dahsyat dan beratnya proses transmisi wahyu kepadanya.

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa pada masa awal menerima wahyu Nabi Muhammad masih sangat ketakutan. Ketika beliau mendengar suara memanggil-manggil namanya beliau berlari. Keadaan itu dirasa mengkhawatirkan Khadijah.

Dia meminta Abu Bakar agar membujuk Nabi Muhammad untuk berkunjung ke rumah sepupu Khadijah, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab. Ketika didatangi oleh mereka, Waraqah telah mengetahui tanda kenabian yang tampak pada diri Nabi Muhammad.

Setelah Nabi Muhammad mengadukan keadaannya, Waraqah memberikan saran agar Nabi Muhammad tetap tenang dan memperhatikan dengan seksama suara yang terdengar.

Viralnya Al-Qur’an

Viralnya Al-Qur’an di kalangan bangsa Arab telah bermula sejak ia sampai di telinga mereka. Mereka menyadari keindahan bahasa yang dimiliki oleh Al-Qur’an, namun untuk mengakuinya, mereka masih terhimpit tekanan dan kekhawatiran.

Bagaimana mereka tidak khawatir, tradisi mereka terdahulu berakar dengan kokoh bahwa yang berhak memimpin adalah suku yang besar dan kuat. Dengan begitu mereka tidak akan sembarangan mengakui kebenaran ajaran baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Jika tidak, maka mereka akan kehilangan kedudukan penting di suku mereka.

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa sebagian dari pemuka-pemuka suku mereka berdecak kagum akan keidahan bahasa dan susunan kalimat Al-Qur’an. Mereka menuduh Muhammad adalah penyair, karena saking indahnya kata-kata yang diucapkan oleh Nabi Muhammad yang ternyata ayat-ayat Al-Qur’an.

Tidak hanya keindahan dari segi bahasa, kebenaran ayat-ayat yang mengandung sejarah juga diakui oleh ahlul kitab. Namun, kebenaran bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah mereka putar balikkan, dengan menyatakan bahwa ia adalah ayat-ayat yang dibuat-buat oleh Nabi Muhammad.

Dan sayangnya, usaha memutar balikkan hal itu terpatahkan, dikarenakan Nabi Muhammad adalah seorang yang ummy (tidak pandai membaca dan menulis).

Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pandai membaca dan menulis mendapatkan pengetahun-pengetahuan yang mustahil diketahui tanpa membaca, kecuali ia mendapatkannya melalui wahyu dari Allah.

Dari situ, semakin banyaklah subscriber channel pengajaran Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad. Tidak lupa mereka yang telah menjadi pengikutnya, me-like dan me-share ayat Al-Qur’an yang turun berangsur.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad telah ditulis oleh para sahabat, meskipun belum terkumpul. Tulisan sebagian ayat Al-Qur’an itu, disimpan oleh para sahabat di rumah mereka masing-masing.

Islamnya Umar Setelah Membaca Tulisan Ayat Al-Qur’an, Surat Thaha

Kisah yang paling terkenal mengenai pentingnya tulisan dalam viralnya Al-Qur’an adalah kisah Umar bin Khattab. Ketika Umar hendak menemui Nabi Muhammad, untuk membunuhnya, dia dihadang dengan pernyataan bahwa sebaiknya dia mengurus keluarganya terlebih dahulu.

Sejurus kemudian, orang yang mencegahnya itu mengatakan bahwa adik Umar sendiri, Fatimah, telah mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Mendapatkan kabar itu, Umar langsung berputar arah menuju ke rumah Fatimah.

Umar berhenti di depan pintu rumah adiknya. Terdengar suara Fatimah sedang membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang tertulis pada sebuah lembaran. Umar mendobrak pintu dan masuk dengan beringas penuh kemarahan. Fatimah ditampar olehnya.

Di rumah itu terjadi percekcokan sengit antara Umar dan adiknya, hingga akhirnya Umar meminta adiknya menyerahkan lembaran yang dibacanya tadi. Setelah diminta membersihkan diri oleh adiknya, Umar membaca tulisan tersebut. Umar bin Khattab dengan penuh kejujuran mengatakan bahwa ayat-ayat itu ialah kalimat yang indah dan mulia.

Dari sini dapat disikapi bahwa viralnya Al-Qur’an di kalangan bangsa Arab dikarenakan keindahan bahasa dan kebenaran yang terkandung dalam ayat-ayatnya.

Sedangkan media penyebarannya melalui lisan dan tulisan (meski terbatas), yang dimulai dengan penyampaian dakwah sembunyi-sembunyi di kalangan masyarakat bawah, berpusat di rumah Arqan bin Abil Arqam.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Al-Qur’an menjadi mukjizat Nabi Muhammad yang paling agung.

Agenda Kegiatan

Video Terbaru

Data Madrasah

MI Narrative Quran Lamongan

NPSN : 69993353 / NSM : 111235240537

Jl. Kalianyar (Selatan Perumahan Green Flower) Lamongan (0322) 3106655
KEC. Lamongan
KAB. Lamongan
PROV. Jawa Timur
KODE POS 62216